Kepala Madrasah

SOSOK YANG TAK KENAL TAKUT AKAN KEKERASAN,
NAMUN LULUH JIKA MELIHAT PENDERITAN ORANG LAIN

Dedikasi dan loyalitasnya dalam mengabdi di Madrasah Tsanawiyah Ma’arif Udanawu mengantarkan beliau hingga kini memimpin lembaga pendidikan swasta terbesar di Kabupaten Blitar ini. Pak Haidar, demikian orang biasa menyapa akrab beliau. Pemilik nama lengkap Haidar Mirza ini lahir 54 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 3 Juli 1959 di desa Tunjung Udanawu Blitar.
Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang harmonis, anak ke-9 dari 10 bersaudara, putra dari KH. Hilaluddin dan Hj.Syarifah Zahra’ ini tumbuh menjadi anak yang berkepribadian. Kegemarannya sejak kecil hingga dewasa dalam bidang olah raga, utamanya silat semakin mengasah kepribadian yang mendapat didikan dan pengawasan langsung dari ayah maupun kakak-kakak yang menyayanginya. Kecintaan akan ilmu dapat dilihat dari antusiasnya beliau menekuni arahan kedua orang tuanya yang memang merupakan tokoh agama yang menjadi panutan masyarakat di daerah tempat tinggalnya.
Disiplin keras yang diterapkan orang tua dalam mendidiknya tidak sia-sia. Saat kelas 2 SD, beliau sudah mempu menghafal juz ama’ dan surat yasin. Kemampuan yang cukup membahagiakan dan membanggakan kedua orang tuanya kala itu.
Tidaklah mengherankan, masa kecil yang banyak dilalui di kampung halamannya tersebut, dengan dasar agama kuat dan kematangan akan pengalaman menjadikan beliau tangguh hidup di tengah-tengah masyarakat. Menurutnya“tak kenal takut akan kekerasan, namun luluh jika melihat penderitaan orang lain“.
Pendidikan dasarnya beliau tempuh hingga tahun 1970 di desanya, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Madrasah Mu’allimin Mu’allimat NU Bakung (sekarang berganti nama MTs Ma’arif) hingga sampai lulus melanjutkan sampai PGA 4 tahun di Desa Bakung tersebut.
Keinginan kuat orang tuanya dalam memberikan bekal keilmuan pun juga karena timbul rasa ketakutan yang menyelimuti hati orang tuanya akan pengaruh lingkungan yang negatif. Setamat PGA 4 tahunnya beliau dikirim untuk menuntut Ilmu di KMI Gontor Ponorogo. Karena ketaatan pada kedua orang tuanya yang gigih mengupayakan pendidikan, akhirnya beliau benar-benar berangkat ke kota Ponorogo untuk nyantri di Pondok Pesantren Modern masuk kelas Eksperimen yang sekarang dinamakan Kelas Pintas (pelajaran yang seharusnya 6 tahun di tempuh hanya 4 tahun).
Jiwa kepemimpinannya mulai tampak, ketika beliau duduk di kelas 5 KMI. Beliau diangkat menjadi Keamanan Rayon membawahi 400 santri. Keberhasilannya mengemban amanat tersebut, setelah 6 bulan menjalankan tugas beliau ditarik untuk menangani pembangunan pondok urusan perbelanjaan barang dan pekerja. Dari kiprahnya itulah beliau semakin mendapatkan kepercayaan dari pengasuhnya. Ketika beliau naik ke kelas 6 selain menangani Bangunan, beliau juga mendapatkan tugas, ditunjuk dan diangkat oleh Ustadz KH. Abdullah Zarkasyi, MA, menjadi ketua Mahkamah Bahasa kelas 5.
Pada tahun 1979, beliau telah selesai pendidikan di KMI, setamat di KMI inilah beliau diwajibkan hidmah (pengabdian) mengajar dan kuliah di IPD (Institut Pondok Darussalam) Gontor hingga meraih gelar BA untuk Sarjana Mudanya pada tahun 1984.
Setamat dari IPD, beliau memutuskan untuk pulang kampung. Beliau mengajar di Madrasah Aliyah Ma’arif, tahun 1985 diangkat sebagai wakil kepala madrasah hingga tahun 1989-1990. Disamping beliau mengajar di Madrasah Aliyah, beliau juga mengabdi di MTs Ma’arif ini. Tahun 1991, beliau diangkat oleh Pak Haji Fathur untuk menjadi wakil kepala MTs Ma’arif. Karena kesibukan beliau, pada tahun 1996, beliau mengundurkan diri dari jabatan wakil kepala, namun Pak Haji Fathur masih menginginkan untuk membantunya, akhirnya beliau menjabat sebagai PKM kesiswaan hingga tahun 1998. Karena permintaan dan pemilihan juga, pada tahun 1998 beliau dipercaya menjadi wakil Madrasah hingga tahun 2002. Ketika Pak Haji Fathur wafat Juni 2002, beliau diangkat sebagai PJS Kepala Madrasah dan akhirnya diangkat sebagai Kepala Madrasah hingga kini.
Kesuksesanya memimpin madrasah, pria yang memiliki hobby membaca sejak kecil dan menyelesaikan S 1 di IAIT Kediri ini, tidak lepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya, disamping kemampuan beliau yang teruji sejak dalam masa pendidikan. Impian beliau yang kini terwujud, berdirinya Pondok Pesantren Masama yang sudah dirintis setahun lalu. Melalui tangan dingin beliau, kini masama semakin mendapatkan kepercayaan dan simpati masyarakat luas.